4 May 2025

Legiun Iblis

    Mereka datang dari tanah, berjubah api dan abu, mata yang hitam mendalam dan tubuh lumpuh. Walaupun fikiran mereka sudah tiada dan jiwa yang tercemar, mereka masih mengikuti Tuan-tuan yang sesat, mengikuti seluruh perkataan berkerumunan. Mereka beraneka-ragam, berjangka dari gerombolan mahluk-mahluk bertanduk hitam, manusia sesat, raksasa tanah liat, sampai dewa-dewi setiap legiun Iblis, dijuluk Tuan atau Baginda.

Para Legioner

Mahluk Api dan Lahar


    Sesungguhnya, seseorang tidak bisa membayangkan sebuah Iblis tanpa memikirkan sebuah mahluk rusak dengan tanduk. Sepisah imajinasi ini betul, legiun-legiun Iblis dari api neraka sangat sukar untuk melihat tanpa menampakan sebuah mahluk berapi bertanduk, mereka adalah arwah manusia buruk dan berdosa yang telah mati tanpa bertobat, hidup mereka terikat pada baginda masing masing, hilang fikiran selain rasa tersiksa api panas, mengikuti apapun yang tuan mereka menyeru, untuk mendapatkan kesempatan keluar dari siksa mereka. Mereka dapat julukan Demit.

Pengguncang Bumi

    Dongeng dari zaman lampau menyerukan bangsa bangsa mahluk raksasa, pemakan manusia, pengguncang bumi. Mereka datang lagi, pada zaman Kalabendu, keluar dari tidur silam mereka dan bangun untuk menghancur tanah dewa-dewi bertirani, mereka sering disebut sebagai Gergasi


2 May 2025

Kemaharajaan Madjapahit

" Hidup, Hidup. Madjapahit! "

    Perisai dan pelindung Jawa, kemaharajaan Madjapahit yang dapat menaklukan pasukan Iblis sendiri, ialah penakluk dan raja Nusantara nan jatuh dari tahta kekuasaan jauh sebelum invasi legiun Iblis

    Mereka mempunyai teknologi yang amat pesat dan kuat untuk melawan Iblis, namun kekuasaan dalam Madjapahit terpecah pada tangan dari empat tokoh, yaitu; Sang Maharaja Suci Dyah PradiptaWangun Aji, dijuluk Pawang Agung; Raynar Ardhani, pemimpin Bhayangkara; dan Adipati Arjuna. Empat kaki kursi kekuasaan ini suka bertengkar, setiap pemimpin mempunyai relawan yang taat mengikuti ajaran dan arahannya.

Sejarah

Dua Mahkota

    Kematiannya Maharaja Girindrawardhana pada 1481 oleh genggaman Tuan Prabu Baka dan prajurit pengawalnya mempercik sebuah api perjuangan di Madjapahit. Dyah Pradipta dan Raynar Ardhani melaju pada Keraton Trowulan dan mengambil tahta, Dyah Pradipta yang dulunya sebuah pemimpin prajurit tetap di Trowulan dijuluk sebagai Maharaja setelah ia mengambil tahta dengan lima ribu prajurit, serta pembantuan Raynar Ardhani membawa pasukan marinir armada Madjapahit lama. Selanjutnya setelah kenaikan Dyah Pradipta pada tahta Madjapahit ia mengambil-alih seluruh abu-abu Bhayangkara yang dulunya hancur, kepada Raynar Ardhani.

    Kehidupan setelah pengambilan mahkota oleh dua tokoh tersebut menjadi stabil dan tidak stabil. Dyah Pradipta mengambil nama Maharaja Suci, dengan cara memberikan banyak tokoh suci dan dukun-dukun terkenal kekayaan-kekayaan dunia untuk mengenalkan ia sebagai Maharaja Suci dan menetapkan kedudukannya sebagai figur kudus, dan menyelenggarakan banyak perubahan terkait pemisahan Kadjawen Asli, membuat pecahan bernama Kadjawen Tunggal  yang menyatakan bahwa seluruh Maharaja lama dan baru adalah utusan Sang Hyang, dan mempunyai kekuasaan dalam yang di tetapkan oleh Sang Hyang.

    Di sisi lain, Raynar Ardhani merubah pasukan rusak Bhayangkara menjadi prajurit-prajurit premiere yang sakhti, mempersiapkan ritual yang lebih ekstensif dan intensif pada prajurit-prajurit, sampai beredar rumor bahwa mereka dibaur air arang dan dibaca pujian Kala Waktu.

    Langit dan Bumi

    Oposisi melawan Sang Maharaja Suci dari perpecahan agama-agung Kadjawen Asli menjadi dua sudah banyak dan kuat, seperti meriam siap menembak, hanya butuh sebuah api untuk menghancurkan Kemaharajaan sesat ini. Datanglah Wangun Aji, ia berpetualang ke ujung Jawa, dari keamanan palsu Jawa Timur sampai tanah abu melepuh Jawa Barat, mengambil pawang-pawang Karang dan memanggil Sang Antaboga di Kahuripan Raya.

    Sang Antaboga berteriak, menyerukan guncangan berat di Jawa,

Kronologi

" Selamatkan kita, sang Hyang dan Ratu Adil. "
    Sudah hampir satu abad sejak kedatangan gerombolan Iblis ke tanah Nusantara. Jatuh dari langit dan lahir dari tanah, kedatangan dunia kejahatan sudah menandakan akhirnya dunia.

    Walaupun Nusantara sudah memantau ribuan lahir dan jatuhnya kerajaan-kerajaan di atas tangan mereka, sudah akhirnya peperangan antar manusia selesai dan bermulanya Satunggal Palagan melawan kekuasaan Iblis.

Kronologi

  • 1430<. Tersebar berita oleh saudagar asing tentang kedatangan makhluk-makhluk gaib di dunia belahan Asia.

  • 1430. Datangnya Gapura Gaib Raya dan seribu pasukan Iblis di gunung Slamet.

  • 1435. Rantaian Gapura Gaib muncul di pulau-pulau Nusantara lain.

  • 1441. Kota Palembang dikepung dan Kerajaan Palembang hancur oleh pasukan Iblis dari gunung Marapi.

  • 1445. Kekuasaan Iblis di Pulau Jawa menutupi Jawa Tengah dan bagian dari Jawa Barat.

  • 1447. Sekutu Sumatera terdiri atas kerajaan-kerajaan Sumatera selain Aceh diteruskan, gerakan Iblis di Sumatera ditahan oleh koalisi.

  • 1455. Kerajaan Sunda menghadapi perang saudara dan berpecah menjadi empat.

  • 1470. Kemunculan Nyai dan 11 Lampor Suci, Lautan Selatan dan Barat tertutup.

  • 1501. Kekuasaan Iblis menghancurkan fraksi kerajaan-kerajaan Jawa Barat dan mengambil-alih wilayahnya hampir sepenuhnya.

  • 1505. Gelombang Sulawesi terjadi, beribu-ribu penduduk Sulawesi mati karena Gelombang. Sulawesi menjadi gelap berabu.

  • 1510. Migran dari Papua dan sebagian kerajaan Nusantara timur datang ke Madjapahit.

  • 1517. Dyah Pradipta mengutuskan Satunggal Palagan, menganjur seluruh penduduk Nusantara untuk melawan Iblis dan pengikutnya.

  • 1520. Sekarang.




Legiun Iblis

     Mereka datang dari tanah, berjubah api dan abu, mata yang hitam mendalam dan tubuh lumpuh. Walaupun fikiran mereka sudah tiada dan jiwa...