" Hidup, Hidup. Madjapahit! "
Perisai dan pelindung Jawa, kemaharajaan Madjapahit yang dapat menaklukan pasukan Iblis sendiri, ialah penakluk dan raja Nusantara nan jatuh dari tahta kekuasaan jauh sebelum invasi legiun Iblis
Mereka mempunyai teknologi yang amat pesat dan kuat untuk melawan Iblis, namun kekuasaan dalam Madjapahit terpecah pada tangan dari empat tokoh, yaitu; Sang Maharaja Suci Dyah Pradipta; Wangun Aji, dijuluk Pawang Agung; Raynar Ardhani, pemimpin Bhayangkara; dan Adipati Arjuna. Empat kaki kursi kekuasaan ini suka bertengkar, setiap pemimpin mempunyai relawan yang taat mengikuti ajaran dan arahannya.
Sejarah
Dua Mahkota
Kematiannya Maharaja Girindrawardhana pada 1481 oleh genggaman Tuan Prabu Baka dan prajurit pengawalnya mempercik sebuah api perjuangan di Madjapahit. Dyah Pradipta dan Raynar Ardhani melaju pada Keraton Trowulan dan mengambil tahta, Dyah Pradipta yang dulunya sebuah pemimpin prajurit tetap di Trowulan dijuluk sebagai Maharaja setelah ia mengambil tahta dengan lima ribu prajurit, serta pembantuan Raynar Ardhani membawa pasukan marinir armada Madjapahit lama. Selanjutnya setelah kenaikan Dyah Pradipta pada tahta Madjapahit ia mengambil-alih seluruh abu-abu Bhayangkara yang dulunya hancur, kepada Raynar Ardhani.
Kehidupan setelah pengambilan mahkota oleh dua tokoh tersebut menjadi stabil dan tidak stabil. Dyah Pradipta mengambil nama Maharaja Suci, dengan cara memberikan banyak tokoh suci dan dukun-dukun terkenal kekayaan-kekayaan dunia untuk mengenalkan ia sebagai Maharaja Suci dan menetapkan kedudukannya sebagai figur kudus, dan menyelenggarakan banyak perubahan terkait pemisahan Kadjawen Asli, membuat pecahan bernama Kadjawen Tunggal yang menyatakan bahwa seluruh Maharaja lama dan baru adalah utusan Sang Hyang, dan mempunyai kekuasaan dalam yang di tetapkan oleh Sang Hyang.
Di sisi lain, Raynar Ardhani merubah pasukan rusak Bhayangkara menjadi prajurit-prajurit premiere yang sakhti, mempersiapkan ritual yang lebih ekstensif dan intensif pada prajurit-prajurit, sampai beredar rumor bahwa mereka dibaur air arang dan dibaca pujian Kala Waktu.
Langit dan Bumi
Oposisi melawan Sang Maharaja Suci dari perpecahan agama-agung Kadjawen Asli menjadi dua sudah banyak dan kuat, seperti meriam siap menembak, hanya butuh sebuah api untuk menghancurkan Kemaharajaan sesat ini. Datanglah Wangun Aji, ia berpetualang ke ujung Jawa, dari keamanan palsu Jawa Timur sampai tanah abu melepuh Jawa Barat, mengambil pawang-pawang Karang dan memanggil Sang Antaboga di Kahuripan Raya.
Sang Antaboga berteriak, menyerukan guncangan berat di Jawa,
.png)
No comments:
Post a Comment